Aku datang! Aku datang bersama bayangan hitam. Aku datang bersama asap. Aku datang bersama bara. Aku datang bersama serpihan daging. Aku datang bersama ceceran darah. Aku datang bersama bau anyir. Aku datang bersama bau busuk. Aku datang bersama kematian. Aku datang untuk menjemputmu. Aku datang untuk tujuanku.
Menangislah sepuasmu. Merataplah sebisamu. Menjeritlah sekeras-kerasnya.
Aku tidak akan pernah peduli suara jerit tangismu. Aku tidak akan pernah merasakan ratapanmu. Aku tidak akan pernah peduli sakitmu. Aku tidak akan pernah peduli perasaanmu. Karena aku datang tidak untuk semua itu. Tapi aku datang untuk tujuanku.
Sumpahkanlah aku. Serapahkanlah aku. Biadabkanlah aku. Kutuklah aku.
Aku tidak akan pernah peduli sumpahmu. Aku tidak akan pernah peduli serapahmu. Aku tidak akan pernah peduli pembiadabanmu. Aku tidak akan pernah peduli kutukanmu. Karena aku datang tidak untuk semua itu. Tapi aku datang untuk tujuanku.
Aku datang bersama bayangan hitam. Aku adalah hitam. Aku hitam menurut pandanganmu. Dan memang benar aku hitam menurut pandanganmu. Karena kamu menganggap diriku hitam. Kamu menganggap dirimu putih. Menurut pandanganku aku adalah putih, dan kamu adalah hitam. Karena aku menganggapnya demikian berdasarkan sudut pandangku.
Hitam dan putih. Segala sesuatu di luar sistemku, aku anggap sebagai hitam. Dan segala sesuatu di luar sistemmu, kamu anggap sebagai hitam. Aku putih dan kamu hitam. Aku hitam dan kamu putih. Aku tidak pernah sama putihnya dengan kamu. Aku tidak pernah sama hitamnya dengan kamu. Aku berpikir dan kamu berpikir, akulah yang putih dan kamulah yang hitam. Karena aku dan kamu adalah beda. Beda pikiran. Beda sistem. Beda ideologi. Dan beda tujuan.
Lihatlah pada masanya, saat dunia dibagi menjadi dua, hitam dan putih. Lihatlah pada masanya, saat dunia hitam dibagi menjadi dua. Lihatlah pada masanya, saat mereka berdua berkelana ke segala penjuru mata angin dengan panji-panji patronase kebesaran untuk memutihkan dunia yang hitam. Hitam yang harus diputihkan.
Aku tidak mengerti jalanmu. Kamu tidak mengerti jalanku. Karena jalanku dan jalanmu berbeda. Pada saat aku berjalan pada jalanku, kamu menganggap jalanku biadab. Pada saat kamu berjalan pada jalanmu, aku menganggap jalanmu terkutuk. Kamu menganggap jalanku adalah kesesatan. Aku menganggap jalanmu adalah kesesatan. Kesesatan yang harus diputihkan.
Kamu memintaku untuk melihat ceceran darah di sana. Baiklah aku sudah melihat ceceran darah itu. Kalau kamu memintaku untuk melihat serpihan daging di sana. Baiklah aku sudah melihat serpihan daging itu. Kalau kamu memintaku untuk melihat mayat-mayat di sana. Baiklah aku sudah melihat mayat-mayat itu. Dan aku sudah melihat semuanya. Bahkan tanpa kamu minta, aku sudah melihat semuanya. Semuanya.
Aku sudah melihat asap hitam mengepul. Aku sudah melihat kobaran api. Aku sudah melihat serpihan kaca. Aku sudah melihat serakan beton. Aku sudah melihat ceceran darah di mana-mana. Aku sudah melihat geletakan bangkai menghitam. Aku sudah melihat ratapan mereka. Aku sudah melihat darah mengucur di sekujur tubuh mereka. Aku sudah melihat punggung mereka koyak dan berdarah-darah. Aku sudah melihat tubuh mereka terbakar hitam. Aku sudah melihat mereka terbaring terkulai tak berdaya. Aku sudah melihat lolong tangis mereka. Aku sudah melihat jerit tangis anak-anak mereka. Aku sudah melihat jerit tangis sanak mereka. Aku sudah melihat kutukan mereka. Aku sudah melihat sumpah serapah mereka. Aku sudah melihat mereka mengerang kesakitan. Dan aku sudah melihat mereka meregang antara hidup dan mati.
Kalau kamu meminta aku untuk mengerti dengan akibat jalan yang aku ambil. Aku sudah mengerti akibatnya. Kalau kamu meminta aku untuk tahu dengan akibat jalan yang aku ambil. Aku sudah tahu akibatnya. Kalau kamu memintaku untuk tidak mengambil cara-cara seperti itu. Itu masalah lain. Karena setiap cara yang aku ambil adalah caraku sendiri. Jalanku. Jalan untuk mencapai tujuanku.
Aku ulangi lagi. Tujuanku bukanlah ceceran darah. Tujuanku bukanlah serakan daging. Tujuanku bukanlah gelimpangan mayat. Tujuanku bukanlah tangismu. Tujuanku bukanlah ratapanmu. Tujuanku bukanlah kutukanmu. Tujuanku bukanlah tubuh yang terkoyak. Tujuanku bukanlah kematian. Tetapi tujuanku adalah tujuan itu sendiri. Arahku ke sana. Sebuah tujuan yang kamu mengerti. Karena aku juga mengerti tujuanmu. Memutihkan yang hitam.
Puas? Bukan kepuasan yang aku cari. Aku bukanlah seorang Nero yang merasakan kepuasan batin saat dia memerintahkan bala tentaranya untuk membakar setiap musuhnya. Aku tidak merasakan kepuasan lewat jilatan bara api seperti dia. Aku tidak seperti itu. Aku bukanlah seorang Hitler yang gemetar karena orgasme saat dia berbicara di depan ribuan SS dan memerintahkan mereka untuk menggenggam seluruh daratan Eropa. Aku bukanlah Marx yang menganjurkan para pembantu menghunuskan pisaunya ke dada majikan mereka. Aku bukanlah orang yang mengatakan awan hitam telah menggelantung di atas benua ini. Aku bukanlah orang berteori seperti itu.
Tapi aku datang dengan kehendak titah suciku. Sebagaimana kamu mengemban titah sucimu. Titah suciku dan titah sucimu adalah tujuan. Memutihkan yang hitam.
Pembunuh! Baiklah aku bisa mengerti sangkaanmu. Tetapi aku bukanlah seorang pembunuh seperti yang kamu sangkakan kepadaku. Dan memang membunuh bukanlah tujuanku. Sekali lagi aku katakan kepadamu, semua itu bukanlah tujuanku. Karena tujuanku adalah tujuan itu sendiri.
Lihatlah pada masanya ketika dunia hanya ada dua manusia. Lihatlah pada masanya ketika dua manusia kakak dan adik. Lihatlah sang kakak membunuh adiknya untuk mencapai sebuah tujuan yang dia tidak dapatkan. Lihatlah sang kakak berlari-lari ke segala ujung dunia dengan sebuah kutukan, pembunuh. Lihatlah sang kakak tidak bisa menyembunyikan dirinya dari kutukan. Lihatlah setelah itu. Keturunan mereka saling membunuh untuk mencapai tujuan. Manusia membunuh manusia untuk sebuah tujuan. Aku dan kamu adalah bagian dari manusia itu. Aku membunuh kamu dan kamu membunuh aku. Aku dan kamu adalah bagian dari sejarah sang kakak yang berulang. Berulang. Berulang.
Matilah kamu! Lihatlah penggalan kepalaku ini. Lihatlah dengan matamu sendiri tubuhku terkoyak. Lihatlah tubuhku menghitam terbakar bara. Lihatlah dagingku robek-robek. Lihatlah darahku menyembur keluar dan tercecer. Kamu bisa mencium bau anyir darahku. Lihatlah ususku membuncah tergerai. Lihatlah tulangku remuk hancur terbengkalai. Lihatlah mataku. Kamu akan melihat dan mengerti bahwa aku menggapai tujuanku. Memutihkan yang hitam. Dan aku akan datang lagi...
http://mataair.blogspot.com/2003/08/dialog-dengan-penggalan-kepala.html